GROBOGAN – Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melaksanakan patroli gabungan antisipasi kebakaran di areal agroforestry tebu seluas 7,2 hektar di petak 87 B-1, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jangglengan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatipohon, pada Senin (09/09).
Kegiatan patroli ini melibatkan jajaran Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Jangglengan, KRPH Tegalsumur, KRPH Sengker, KRPH Sinawah, Pelaksana Harian (PLH) KRPH Randukuning di wilayah BKPH Jatipohon, serta tenaga kerja dari masyarakat sekitar hutan yang menjadi penggarap lahan tebu. Kolaborasi tersebut merupakan bentuk sinergi antara Perhutani dan Koperasi Produsen Warga Perhutani (KWPHT) dalam menjaga keberlangsungan program agroforestry tebu dengan pola kemitraan.
Administratur Perhutani KPH Purwodadi melalui Kepala BKPH Jatipohon, Tutut Sugianto, menyampaikan bahwa kegiatan patroli gabungan ini tidak hanya difokuskan pada antisipasi kebakaran hutan, tetapi juga bagian dari pengamanan aset dan pemeliharaan tanaman.
“Kebakaran hutan dan lahan merupakan ancaman serius, apalagi di musim kemarau. Melalui patroli gabungan ini, Perhutani bersama masyarakat penggarap berupaya menjaga keamanan lahan tebu dari risiko kebakaran maupun pencurian. Kami juga berharap tanaman tebu dapat tumbuh optimal sehingga memberikan hasil produksi (protas) yang tinggi. Hal ini sekaligus mendukung program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan berbasis agroforestry,” tegasnya.
Sementara itu, KRPH Jangglengan, Radik Saputro, menjelaskan bahwa lokasi agroforestry tebu di petak 87 B-1 ini memiliki potensi produktivitas yang baik sehingga perlu dijaga secara intensif.
“Kami terus melakukan pemantauan lapangan, memastikan tidak ada aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Selain itu, patroli ini juga menjadi ajang edukasi bagi para penggarap agar lebih disiplin menjaga lingkungan dan mengikuti aturan yang telah disepakati dalam kemitraan,” ungkap Radik.
Salah satu warga penggarap, Sutrisno, menyampaikan rasa syukurnya dapat ikut terlibat dalam patroli tersebut.
“Kami sebagai masyarakat sangat terbantu dengan adanya program kemitraan tebu ini. Selain menambah penghasilan, kami juga merasa ikut memiliki tanggung jawab menjaga lahan agar aman dari kebakaran maupun gangguan lain. Dengan ikut patroli, kami bisa langsung tahu cara menjaga tanaman agar hasil panen lebih baik,” tuturnya. Program agroforestry tebu yang digarap melalui skema kemitraan ini merupakan salah satu strategi Perhutani untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan hutan secara produktif dan berkelanjutan. Dengan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan, selain memberikan nilai ekonomi, juga membangun kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian hutan.