Grobogan – Dalam rangka mendukung keberhasilan tanaman jagung swasembada pangan nasional melalui program Kapolri, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi menggelar pertemuan bersama jajaran petugas lapangan BKPH Jatipohon serta para penggarap hutan di petak 65C-1 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sinawah, Rabu (17/09).
Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Wakil Administratur Perhutani KPH Purwodadi, Toto Suwaranto, yang memberikan arahan kepada jajaran petugas lapangan maupun penggarap agar menjaga keberhasilan tanaman jagung yang telah ditanam di lahan hutan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Toto Suwaranto menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari kontribusi Perhutani untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
“Keberhasilan tanaman jagung di petak 65C-1 ini bukan hanya wujud kerja keras para penggarap, tetapi juga bukti sinergi antara Perhutani, aparat, dan masyarakat. Kami berharap penggarap tetap menjaga komitmen dalam merawat tanaman agar hasilnya bisa maksimal serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Toto.
Toto juga menekankan pentingnya perawatan teknis yang tepat untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
“Salah satu kunci keberhasilan ada pada pemupukan yang dilakukan tepat waktu. Saat tanaman selesai diguyur hujan, kondisi tanah lebih mudah menyerap nutrisi sehingga pemupukan menjadi lebih efektif. Hal ini yang terus kami dorong agar dilakukan secara disiplin di lapangan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala BKPH Jatipohon, Tutut Sugianto, menambahkan bahwa pihaknya akan terus melakukan pendampingan lapangan secara intensif.
“Kami bersama jajaran RPH Sinawah berkomitmen untuk mengawal tanaman jagung ini hingga panen. Beberapa upaya yang dilakukan adalah memaksimalkan pemupukan pada saat tanaman setelah diguyur hujan, sehingga nutrisi dapat terserap dengan baik. Selain itu, kami juga memastikan tidak ada gangguan terhadap tanaman agar program ini benar-benar berhasil,” jelas Tutut.
Tutut juga menambahkan bahwa selain jagung, pada lahan tersebut juga terdapat tanaman pokok jati dan tanaman keras berupa buah-buahan. Kombinasi ini penting untuk menjaga kondisi tanah tetap subur, mengurangi erosi, serta menciptakan keberlanjutan ekosistem hutan.
Salah satu penggarap, Sutrisno, warga sekitar hutan petak 65C-1, mengaku merasa terbantu dengan adanya program ini.
“Kami para penggarap sangat terbantu. Selain bisa ikut menanam dan merawat jagung, kami juga mendapat tambahan penghasilan. Harapan kami, hasil panen nanti bisa membawa kebaikan bagi keluarga dan mendukung kebutuhan pangan masyarakat luas,” ungkap Sutrisno. Program penanaman jagung di kawasan hutan ini merupakan implementasi dari kerja sama strategis antara Polri, Perhutani, dan masyarakat sebagai upaya mendukung swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga sekitar hutan, dengan tetap menjaga fungsi hutan melalui keberadaan tanaman pokok jati dan tanaman keras lainnya.