
SURAKARTA – Di area hutan produksi Petak 7D Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Plumbon, yang merupakan bagian dari wilayah kerja Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta, sekelompok mahasiswa magang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan kegiatan praktik lapangan pada Sabtu, 25 Oktober. Kegiatan ini merupakan bagian dari praktik manajemen tebangan—meliputi tahap persiapan dan pelaksanaan pemanenan kayu—yang semakin krusial dalam pengelolaan hutan berkelanjutan.
Berdasarkan informasi dari situs resmi Perhutani, praktik “pra-tebangan” bagi mahasiswa membantu memperluas pemahaman tentang keterkaitan produksi kayu dan kelestarian hutan. Di Petak 7D RPH Plumbon, lokasi yang tercatat dalam laporan produksi sebagai salah satu petak tebangan utama di Baturetno, mahasiswa mendapatkan pembelajaran mengenai teknik pemetaan petak, ukuran penampang tebangan, hingga mekanisme administrasi produksi.
Mewakili Administratur KPH Surakarta, Kepala BKPH Baturetno, Karna, menyatakan bahwa keterlibatan mahasiswa UMM ini sangat strategis untuk penguatan sumber daya manusia di bidang kehutanan. Ia menjelaskan bahwa Perhutani menyambut positif kehadiran mahasiswa magang di petak tebangan.
“Kegiatan di Petak 7D memberikan kesempatan istimewa bagi mereka untuk menyaksikan langsung siklus pengelolaan hutan produksi—mulai dari persiapan tebangan, pemanenan, hingga proses pelaporan. Kami yakin bahwa transfer ilmu seperti ini sangat krusial supaya generasi muda memahami bahwa pengelolaan kayu tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga dimensi ekologi dan sosial,” ujarnya.
Perwakilan mahasiswa magang UMM, Sukma, menyampaikan pengalaman dan harapannya dari kegiatan lapangan tersebut.
“Sebelumnya kami mempelajari teori di kampus, namun di lapangan ternyata berbeda. Di Petak 7D kami diperkenalkan dengan teknik pengukuran tebangan, identifikasi jenis pohon pokok hingga pengelolaan sisa tebangan. Ini membuka wawasan kami bahwa hutan produksi harus dikelola secara bertanggung jawab. Saya berharap ilmu ini bisa saya aplikasikan untuk pengabdian masyarakat atau penelitian ke depannya,” tuturnya.
Kegiatan magang ini menegaskan bahwa pembelajaran kehutanan tidak cukup hanya di ruang kelas—praktik lapangan di petak tebangan seperti 7D menjadi jembatan vital antara kampus dan industri kehutanan. Ke depan, diharapkan kolaborasi antara Perhutani, universitas, dan masyarakat lokal semakin diperkuat sehingga pengelolaan hutan di BKPH Baturetno makin profesional, berkelanjutan, dan mampu melahirkan SDM yang kompeten di bidang kehutanan.
Editor : Aris