
KEDU SELATAN, PERHUTANI (20/11/2025) │ Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan menghadirkan inovasi alat transportasi sederhana untuk membantu mobilitas warga desa hutan yang harus melintasi sungai saat beraktivitas menuju kawasan hutan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (20/11).
Inovasi tersebut berupa alat transportasi air tradisional atau getek, yang dibuat dari bambu, kayu, ban serta jeriken bekas. Gagasan ini diinisiasi oleh Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sadang, Sukissno, beserta tim, sebagai solusi atas terbatasnya akses warga ketika musim hujan tiba. Arus sungai yang deras dan lebar kerap menghambat aktivitas masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai penyadap dan petani hutan.
Sukissno menjelaskan bahwa pembuatan getek dilakukan secara swadaya bersama warga desa hutan yang tergabung dalam Kelompok Tani Sadap (KTS) di Tempat Penampungan Getah (TPG) Paladipa.
“Dengan adanya getek ini, akses menuju hutan menjadi lebih aman dan mudah, terutama saat musim penghujan ketika sungai bisa melebar hingga sekitar 60 meter. Semoga melalui kolaborasi ini, hasil sadapan dan pertanian masyarakat juga ikut meningkat,” ujarnya.
Getek dirakit menggunakan bambu dan kayu yang diperkuat dengan pelampung dari jeriken dan ban bekas. Alat ini dioperasikan dengan sistem tali yang membentang melintasi sungai dan dapat digunakan untuk mengangkut orang maupun hasil bumi.
“Kapasitas angkutnya mencapai sekitar 500 kilogram, sehingga cukup membantu warga dalam membawa hasil sadapan maupun barang lainnya,” tambahnya.
Inovasi tersebut diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa hutan serta mendorong terciptanya akses yang lebih baik dan mendukung peningkatan produktivitas warga.
Editor : Aris