GROBOGAN – Dalam rangka optimalisasi produksi kayu dan peningkatan mutu hasil tebangan, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melaksanakan kegiatan pembinaan teknis kepada jajaran mandor tebang, tenaga chainsaw, dan tenaga muat bongkar di lokasi tebangan Petak 99C, wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Anggil-Anggil, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tumpuk, pada Rabu (30/07).
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Penguji Tingkat I KPH Purwodadi serta para pelaksana tebangan yang sehari-hari bertanggung jawab atas proses penebangan dan penanganan kayu. Pembinaan difokuskan pada pemahaman teknis dan administratif yang mencakup pembagian batang, penerapan prinsip-prinsip Penatausahaan Hasil Hutan (PUHH), serta tata cara penanganan dan pengangkutan kayu hasil tebangan untuk memaksimalkan potensi kayu panjang dan mutu log yang bernilai tinggi.
Administratur KPH Purwodadi melalui Penguji Tingkat I, Suhariyoto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas hasil produksi dan efisiensi operasional di lapangan.
“Kualitas tebangan sangat menentukan nilai jual kayu. Kita dorong agar para mandor dan tenaga lapangan memahami pentingnya klasifikasi batang, teknik pemotongan yang tepat, serta penatausahaan sesuai prosedur. Dengan begitu, tidak hanya volume, tetapi mutu kayu juga meningkat, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan perusahaan dari sektor kayu,” ungkap Suhariyoto.
Sebagai bentuk dukungan terhadap efisiensi kerja, saat ini Perhutani KPH Purwodadi juga telah menerapkan aplikasi digital SIMONPAYU (Sistem Informasi Monitoring Kayu). Aplikasi ini merupakan inovasi karya internal KPH Purwodadi yang pada tahun 2024 berhasil meraih Juara 2 dalam ajang Perhutani Innovation Award.
SIMONPAYU dirancang untuk memudahkan administrasi pekerjaan mandor tebang, khususnya dalam pencatatan dan pelaporan hasil tebangan. Melalui aplikasi ini, data kayu seperti diameter dan panjang batang dapat dimasukkan secara digital, kemudian secara otomatis dihitung volumenya sesuai Tabel Produksi Perhutani. Aplikasi ini juga memungkinkan pembuatan laporan kemajuan tebangan yang cepat, akurat, dan real-time, serta mengurangi potensi kesalahan pencatatan secara manual.
Salah satu mandor tebang peserta pembinaan, Siswanto, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini sekaligus kehadiran aplikasi pendukung.
“Biasanya kami lebih fokus pada jumlah tebangan. Tapi dengan pembinaan ini, kami jadi lebih paham soal pentingnya teknik potong dan mutu batang. Sekarang juga lebih mudah karena ada SIMONPAYU yang membantu kami membuat laporan harian lebih cepat dan praktis,” tuturnya.
Sementara itu, Kusno, tenaga chainsaw yang juga hadir dalam kegiatan, turut merasakan manfaat langsung dari materi pembinaan.
“Kami jadi tahu cara menentukan titik potong yang tepat agar kayu tetap panjang. Kalau kayunya panjang dan utuh, otomatis harganya lebih tinggi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Perhutani KPH Purwodadi tidak hanya membekali para pelaksana tebangan dengan keterampilan teknis, tetapi juga menyamakan persepsi tentang standar operasional yang berlaku mulai dari penebangan, pengukuran, hingga pengangkutan dan pencatatan hasil produksi. Dengan kombinasi antara pembinaan sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi SIMONPAYU, Perhutani KPH Purwodadi menegaskan komitmennya untuk terus mendorong efisiensi, akurasi, dan profesionalisme dalam setiap lini kegiatan produksi kayu guna mendukung kinerja perusahaan secara keseluruhan.