Grobogan – Dalam suasana santai dan penuh keakraban, jajaran Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Linduk melaksanakan kegiatan komunikasi sosial bersama tokoh masyarakat Dusun Pojok, Desa Carat, Kecamatan Grobogan, di area hutan petak 190 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Carat pada Rabu (12/11).
Kegiatan yang dikemas dalam bentuk duduk bersama di bawah rindangnya pohon tersebut bertujuan untuk mempererat hubungan antara Perhutani dan masyarakat sekitar hutan, sekaligus mengajak warga untuk terus berperan aktif dalam menjaga kelestarian kawasan hutan.
Kepala BKPH Linduk beserta jajaran petugas lapangan hadir dalam kegiatan ini bersama KRPH Carat dan beberapa tokoh masyarakat Dusun Pojok. Suasana cair dan penuh keakraban tercipta ketika dialog berlangsung, di mana masyarakat menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka terkait pengelolaan hutan, sekaligus berdiskusi mengenai langkah-langkah nyata menjaga kelestarian hutan dari gangguan dan kerusakan.
Administratur Perhutani KPH Purwodadi melalui Kepala BKPH Linduk, M. Bagus Nurul Iman, menyampaikan bahwa kegiatan komunikasi sosial seperti ini menjadi bentuk pendekatan yang efektif untuk membangun sinergi dengan masyarakat sekitar hutan.
“Kami ingin hutan tetap lestari, tapi juga masyarakat di sekitarnya sejahtera. Karena itu, hubungan yang harmonis dan komunikasi terbuka dengan masyarakat adalah kunci utama dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan hutan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala RPH Carat, Sutarno, menambahkan bahwa masyarakat Dusun Pojok selama ini sudah menjadi mitra penting dalam kegiatan pengelolaan hutan, mulai dari kegiatan tanam, pemeliharaan, hingga pengamanan kawasan.
“Kami sangat mengapresiasi peran masyarakat yang sudah ikut menjaga hutan dengan kesadaran dan kepedulian tinggi. Dengan komunikasi seperti ini, kami berharap makin banyak warga yang terlibat langsung dalam menjaga hutan agar manfaatnya terus dirasakan bersama,” ungkapnya.
Tokoh masyarakat Dusun Pojok, Mbah Bagong, juga turut memberikan pandangannya. Dalam gaya bicaranya yang hangat, ia menuturkan pentingnya menjaga hutan sebagai warisan untuk anak cucu.
“Hutan iki dudu duweke siji loro, tapi duweke bareng-bareng. Yen dijaga apik, kabeh iso ngrasakke manfaaté. Wong tani kéné wis ngerti, nek alas rusak, banyu ilang, urip angel,” ujar Mbah Bagong yang disambut anggukan setuju dari warga lainnya.
Melalui kegiatan sederhana namun penuh makna ini, Perhutani berharap tumbuhnya kesadaran bersama bahwa menjaga kelestarian hutan bukan hanya tanggung jawab perusahaan semata, melainkan tanggung jawab bersama antara Perhutani dan masyarakat sekitar. (Mj-Ags)
Editor : Aris