Grobogan – Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi lahan hutan dengan pola agroforestry. Hal tersebut ditunjukkan dengan kegiatan peninjauan lapangan oleh Wakil Kepala Perhutani Divisi Regional (Waka Divre) Jawa Tengah, Anton Fadjar Agus Susetya, di petak 65-C1, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sinawah, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatipohon, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi, pada Kamis (25/09).
Peninjauan dilakukan pada areal tanaman jagung yang dikembangkan berdampingan dengan tanaman pokok kehutanan melalui skema agroforestry. Lahan tersebut merupakan bagian dari program Kerjasama Perhutani dan Polri dalam mendukung Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, khususnya pada agenda mewujudkan swasembada pangan nasional.
Dalam kegiatan tersebut, Waka Divre didampingi oleh Kepala Departemen (Kadep) Pengelolaan Sumber Daya Hutan (PSDH) & Produksi Divre Jateng, Didiet Widhi Hidayat, serta Administratur Perhutani KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, bersama jajaran manajemen KPH Purwodadi dan petugas lapangan BKPH Jatipohon.
Waka Divre Jateng Anton Fadjar Agus Susetya menyampaikan bahwa Perhutani akan terus bersinergi dengan pemerintah untuk mengoptimalkan lahan hutan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.
“Agroforestry yang kita lihat hari ini di petak 65-C1 Sinawah adalah salah satu bukti nyata bagaimana hutan bisa memberi manfaat ganda. Selain tetap menjaga fungsi utama sebagai hutan produksi, lahan juga dimanfaatkan untuk tanaman pangan seperti jagung. Ini selaras dengan arahan Presiden dalam Asta Cita untuk mewujudkan swasembada pangan nasional, dan Perhutani siap mendukung penuh,” ujar Anton.
Kadep PSDH & Produksi Divre Jateng, Didiet Widhi Hidayat menambahkan bahwa model penanaman agroforestry telah dirancang agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman pokok.
“Skema agroforestry dengan tanaman sela jagung ini dikelola secara terukur. Jarak tanam, pola pemeliharaan, hingga keterlibatan masyarakat semuanya diperhatikan. Harapannya, hasil dari jagung dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan,” terang Didiet.
Administratur Perhutani KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, menjelaskan bahwa petak 65-C1 memiliki potensi besar untuk mendukung program pangan berkelanjutan.
“Di petak 65-C1, tanaman jagung ditanam berdampingan dengan tanaman pokok kehutanan. Kami melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaan, sehingga manfaatnya tidak hanya mendukung program pemerintah tetapi juga dirasakan langsung oleh warga desa hutan. Ini bagian dari komitmen Perhutani untuk menghadirkan manfaat yang nyata,” ungkap Untoro. Melalui peninjauan lapangan ini, Perhutani menegaskan perannya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak hanya mengelola hutan untuk kayu, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.