PEKALONGAN BARAT, TEGAL RAYA (16/02/2026) | Perum Perhutani melalui jajaran Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Barat menunjukkan komitmen dan kepedulian dengan hadir serta aktif menyambut kunjungan Ketua MPR RI di lokasi bencana banjir bandang kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (16/02).
Kunjungan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI beserta rombongan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap objek wisata dan masyarakat pegiat wisata yang terdampak bencana di kawasan Guci, Kabupaten Tegal. Wilayah tersebut berdekatan dengan pangkuan wilayah kerja KPH Pekalongan Barat, tepatnya di BKPH Bumijawa.
Administratur/Kepala KPH Pekalongan Barat Maria Endah Ambarwati melalui jajaran manajemen dan petugas lapangan turut mendampingi rombongan Ketua MPR RI saat meninjau langsung titik-titik terdampak bencana. Perhutani juga aktif berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, serta relawan dalam upaya penanganan darurat dan pemulihan pascabencana.
Dalam kesempatan tersebut, Perhutani memastikan langkah-langkah pengamanan kawasan hutan telah dilakukan guna mencegah potensi bencana susulan, termasuk pemantauan kondisi lereng, penguatan vegetasi, serta pengaturan akses di sekitar lokasi terdampak.
Di tempat terpisah, Administratur/Kepala KPH Pekalongan Barat Maria Endah Ambarwati menyampaikan bahwa Perhutani berkomitmen penuh mendukung upaya pemerintah dalam penanganan bencana sekaligus aktif melakukan langkah-langkah teknis pemulihan kondisi di sekitar kawasan wisata Guci.
Ia menegaskan bahwa sebagai pengelola kawasan hutan negara, Perhutani hadir tidak hanya dalam pengelolaan sumber daya hutan, tetapi juga dalam situasi darurat. Sinergi seluruh pihak dinilai menjadi bentuk kolaborasi dan komunikasi yang baik dalam percepatan pemulihan.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani dalam kunjungannya menyampaikan bahwa peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi terkini objek wisata Guci sekaligus mencari solusi konkret guna memulihkan kembali daya tarik wisata air panas tersebut. Ia menyampaikan keprihatinan atas kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang yang terjadi pada 20 Desember 2025 dan 24 Januari 2026. Bencana tersebut merusak jembatan penyeberangan yang menjadi akses vital wisatawan serta fasilitas pemandian air panas, terutama Pancuran 13 yang merupakan ikon wisata Guci.
Menurutnya, revitalisasi wisata air panas Guci bukan sekadar memulihkan infrastruktur yang rusak, tetapi juga membangun kembali kepercayaan masyarakat dan menghidupkan perekonomian lokal. Dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat, diharapkan Guci dapat kembali menjadi destinasi wisata unggulan yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat Kabupaten Tegal. Ia juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah, Perhutani, dan seluruh unsur terkait dalam penanganan bencana, termasuk rencana reboisasi atau penanaman pohon di bagian hulu lereng Gunung Slamet. Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan mitigasi bencana berbasis lingkungan, terutama di kawasan lereng dan daerah wisata pegunungan.
Kehadiran Perhutani dalam kunjungan tersebut menjadi bukti peran aktif BUMN kehutanan dalam mendukung pemulihan pascabencana sekaligus menjaga kelestarian hutan sebagai benteng alami terhadap risiko bencana.
Dengan kolaborasi yang solid antarinstansi, diharapkan proses pemulihan kawasan wisata Guci dapat berjalan optimal dan aktivitas masyarakat di sektor pariwisata kembali pulih secara bertahap. (Pkb/Sgy)
Editor: Aris
Copyright © 2026