PEMALANG, (13/02/2026) | Memasuki penghujung tahun 2025 yang diwarnai cuaca ekstrem, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pemalang bersinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal dan Pemerintah Kabupaten Tegal menggelar sosialisasi kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi. Kegiatan yang mengedepankan mitigasi partisipatif masyarakat ini dilaksanakan untuk menekan risiko bencana di wilayah rawan longsor dan banjir, pada Jumat (12/02), bertempat di Aula Kantor BPBD Kabupaten Tegal.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Administratur KPH Pemalang Agustinus Rido Haryanto beserta jajaran, Komandan Regu Polisi Hutan Mobile Purwanta beserta anggota, Kepala BKPH Jatinegara Taufik Hidayat beserta jajaran, Analis Kebencanaan BPBD Kabupaten Tegal Muhamad Affifudin beserta jajaran, kepala desa terkait, serta tokoh masyarakat sekitar.
Wakil Administratur KPH Pemalang Agustinus Rido Haryanto menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan sekaligus benteng alami dari bencana.
Ia menyampaikan bahwa Perhutani tidak dapat bekerja sendiri dalam mengawasi kawasan hutan yang luas. Melalui mitigasi partisipatif, masyarakat Kabupaten Tegal, khususnya yang berada di sekitar kawasan hutan, diajak menjadi garda terdepan dalam memberikan informasi awal apabila ditemukan retakan tanah atau potensi longsor di dalam kawasan. Menurutnya, hutan yang terjaga merupakan jaminan keselamatan warga yang berada di wilayah bawahnya.
Analis Kebencanaan BPBD Kabupaten Tegal Muhamad Affifudin mengingatkan bahwa kesiapsiagaan harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga dan desa. Mengingat topografi wilayah Tegal yang berbukit, ancaman longsor dan banjir bandang menjadi perhatian utama.
Ia menjelaskan bahwa kesiapsiagaan bukan berarti rasa takut, melainkan pemahaman terhadap langkah yang harus dilakukan. Pihaknya mengapresiasi langkah proaktif Perhutani dan pemerintah desa serta mengimbau warga untuk selalu memantau informasi cuaca dan segera melakukan evakuasi mandiri apabila melihat tanda-tanda alam yang tidak biasa, terutama saat hujan deras turun lebih dari dua jam tanpa henti.
Kepala Desa Jatinegara Budiman menyambut baik kolaborasi lintas sektoral tersebut. Ia menyampaikan bahwa pemahaman warga mengenai batas kawasan hutan dan risiko bencana masih perlu terus ditingkatkan.
Ia menegaskan bahwa pemerintah desa berkomitmen memperketat pengawasan pemanfaatan lahan di area lereng. Pihaknya juga menyampaikan terima kasih kepada Perhutani dan BPBD yang telah membekali warga dengan pengetahuan teknis mengenai deteksi dini bencana.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kesadaran kolektif dan kesiapsiagaan yang lebih kuat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, sehingga keselamatan masyarakat dan kelestarian hutan dapat terjaga secara berkelanjutan. (Pml/Sks)
Editor: Aris
Copyright © 2026