Grobogan – Dalam rangka pengawalan produksi kayu tahun 2026, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melaksanakan kegiatan cutting test pada petak 116A RPH Tumpuk, BKPH Tumpuk, KPH Purwodadi, pada Jumat (12/12).
Kegiatan cutting test ini merupakan tahapan penting sebagai pegangan bagi pelaksana tebangan tahun 2026, khususnya dalam rangka monitoring, evaluasi, pengawasan, serta pengendalian terhadap aktivitas tebangan habis jati. Selain itu, hasil cutting test menjadi gambaran awal potensi produksi kayu yang akan dihasilkan, sehingga dapat digunakan untuk memastikan capaian realisasi tebangan secara akurat.
Melalui cutting test ini, dilakukan pengukuran dan analisis terhadap estimasi volume kayu, komposisi, status tegakan, mutu kayu, hingga proyeksi pendapatan perusahaan. Kegiatan tersebut menjadi dasar perencanaan teknis tebangan agar pelaksanaan produksi kayu berjalan efektif, efisien, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Petak 116A memiliki luas 20,1 hektare dengan jenis tanaman jati tahun tanam 1985. Pada pelaksanaan cutting test, dilakukan penebangan sebanyak 612 pohon dengan total volume kayu jati mencapai 197,269 meter kubik.
Kegiatan cutting test ini juga melibatkan tenaga dari masyarakat sekitar sebagai kru tebang dan tenaga angkut. Pelibatan masyarakat desa hutan tersebut tidak hanya mendukung kelancaran kegiatan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi serta memperkuat kemitraan antara Perhutani dan masyarakat.
Administratur KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, menyampaikan bahwa cutting test merupakan bagian penting dalam perencanaan produksi kayu.
“Cutting test ini menjadi dasar yang sangat penting bagi pelaksanaan tebangan tahun 2026. Dari hasil ini, Perhutani dapat memantau potensi produksi secara lebih akurat, baik dari sisi volume, mutu kayu, hingga proyeksi pendapatan, sehingga pelaksanaan tebangan ke depan dapat berjalan tertib, terukur, dan sesuai prinsip kelestarian,” ujarnya.
Sementara itu, Penguji Kayu Perhutani, Suharyoto, menjelaskan bahwa cutting test berfungsi untuk memastikan kualitas dan potensi kayu jati yang akan diproduksi.
“Melalui cutting test, kami dapat mengetahui gambaran mutu kayu, komposisi sortimen, serta kondisi tegakan secara nyata di lapangan. Data ini sangat penting sebagai acuan teknis agar proses tebangan dan produksi kayu nantinya sesuai standar yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Salah satu tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan tersebut, Paidi, mengaku bersyukur dapat dilibatkan dalam kegiatan cutting test.
“Kami merasa senang dan terbantu dengan adanya kegiatan ini karena bisa menambah penghasilan. Selain itu, kami juga ikut berperan dalam menjaga hutan agar pengelolaannya berjalan dengan baik dan teratur,” ungkapnya. Dengan dilaksanakannya cutting test ini, Perhutani KPH Purwodadi berharap pelaksanaan tebangan tahun 2026 dapat berjalan optimal, terencana, dan tetap mengedepankan prinsip kelestarian hutan serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. (Mj-A)
Editor : Aris