Grobogan – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi bersama Pengurus Koperasi Warga Perum Perhutani (KWPHT) melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) pasca panen Agroforestry Tebu dengan skema kemitraan di Petak 87B-1 seluas 7,4 hektare, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jangglengan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatipohon, pada Jumat (12/12).
Kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut dilaksanakan pada musim tanam kedua, dengan fokus pada tahapan pemeliharaan tanaman tebu kepras. Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi pemeliharaan mbun-mbun (pembumbunan), penyemprotan gulma, serta pengecekan kondisi pertumbuhan tanaman tebu pasca panen sebelumnya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan produktivitas tanaman tetap optimal serta menjaga keberlanjutan pengelolaan lahan hutan dengan sistem agroforestry.
Administratur Perhutani KPH Purwodadi melalui Kepala BKPH Jatipohon, Tutut Sugianto, menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi ini merupakan bagian dari komitmen Perhutani dalam mendampingi mitra kerja agar pengelolaan agroforestry berjalan sesuai dengan ketentuan teknis dan prinsip kelestarian hutan.
“Monitoring dan evaluasi ini bertujuan untuk memastikan kegiatan agroforestry tebu berjalan dengan baik, baik dari sisi teknis budidaya maupun kesesuaian dengan skema kemitraan. Dengan pemeliharaan yang tepat pada musim tanam kedua, diharapkan produktivitas tebu meningkat tanpa mengabaikan kelestarian hutan,” jelas Tutut.
Sementara itu, Ketua KWPHT, Farhan, mengapresiasi dukungan dan pendampingan yang diberikan oleh Perhutani KPH Purwodadi. Menurutnya, sinergi yang terjalin antara Perhutani dan koperasi memberikan dampak positif bagi keberhasilan usaha agroforestry tebu.
“Pendampingan dari Perhutani sangat membantu kami dalam mengelola tanaman tebu, mulai dari penanaman hingga pasca panen. Dengan adanya monitoring rutin, kami bisa mengetahui kekurangan di lapangan dan segera melakukan perbaikan agar hasil ke depan lebih maksimal,” ungkap Farhan.
Kegiatan agroforestry tebu ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan. Salah satu tenaga kerja lokal, Paidi, yang merupakan warga sekitar hutan, mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan tersebut.
“Kami merasa terbantu karena bisa ikut bekerja di lahan agroforestry tebu ini. Selain menambah penghasilan, kami juga mendapat pengalaman dan pengetahuan tentang cara merawat tanaman tebu dengan baik,” tutur Paidi.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi pasca panen ini, Perhutani KPH Purwodadi berharap kemitraan agroforestry tebu dapat terus berjalan secara berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, serta tetap menjaga fungsi dan kelestarian kawasan hutan. (Mj-A)
Editor : Aris